“Katakanlah Cinta”

Kita berbicara tentang cinta

…… ataukah kita berbicara tentang keelokan?

Kita berbicara tentang cinta

…… ataukah kita berbicara tentang keinginan?

Kita berbicara tentang cinta

…… ataukah kita berbicara tentang sebab?

 

Kita berbicara tentang cinta…

“Kita mencintai malam, bukan karena keindahan cahaya rembulan

Kita mencintai malam. Bukan karena bintang menggoda malam”

Tapi…

Kita mencintai malam karena sesuatu dibalik sebab yang telah menggoda jiwa

Aku telah jatuh cinta pada tangan yang tak tampak yang telah memberikan keelokan pada malam

 

Kita berbicara tentang cinta….

Ketika mata menjadi sebab datangnya cinta

Ketika telinga menjadi sebab datangnya cinta

Ketika hidung menjadi sebab datangnya cinta

Ketika mulut menjadi sebab datangnya cinta

 

 

Maka…

Cinta pun akan luntur ketika sebab telah berkurang dari keinginannya

Cinta bukan berbicara tentang keelokan

Cinta bukan berbicara tentang kemerduan

Cinta bukan berbicara tentang keharuman

Cinta bukan berbicara tentang perkataan

Tetapi…

Cinta berbicara tentang kejiwaan…

 

Ketika aku jatuh cinta

Apakah ia lahir dari keelokan?

Ketika aku jatuh cinta

Apakah ia lahir dari kesempurnaan?

Ketika aku jatuh cinta

Apakah ia lahir dari kemapanan?

Ketika aku jatuh cinta

Apakah ia benar-benar lahir dari jiwa?

 

Ooh… banyak dari kisah-kisah cinta seperti syair yang dilantunkan penyair

….”Aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat

Atau mungkin akalku yang tidak lagi di tempat”….

 

AKU SEDANG TIDAK JATUH CINTA

SEDANG AKU TIDAK JATUH CINTA

AKU SEDANG MENCARI JIWA

SEDANG JIWA YANG MASIH DALAM TANYA

 

Ketika nanti aku temukan jiwa itu

Aku berkata, “Kudapatkan inti jiwaku pada dirimu

Diriku seperti berada dalam dirimu.

Lalu jiwaku tergerak dan tertuntun untuk menemui jiwa itu

Karena hatiku telah dirasuki cinta”

 

Aku ingin mencinta bukan karena engkau itu, apa?

Tapi aku ingin mencinta oleh kesatuan jiwa

 

 

Sudahi Tangisanmu

Apakah harus aku berteriak begitu lantang kepadamu?

Agar kau bisa mendengar dan mengetahui rasa dan beban hati yang hampir tak bisa aku suarakan..

Karena tercekatnya tenggorokanku kini..

Serak…

Setelah puas menangis beberapa hari kebelakang setelah penyakit itu..

Dan, bagaimana aku bisa berkata?

Sementara tubuhku kini.. Lihatlah, lemah tak berdaya !!!

Sungguh sakit tak terkira.. Terkungkung remuk sendiri saja..

 

Aku tak berharap banyak..

Tetapi setidaknya, aku merasakan sedikit tenang ketika kau ada disini..

Bersamaku.. Berdiri tersenyum lembut..

Dengan binaran Cahaya matamu yang seindah Bulan Purnama..

Dan Kau tak hentinya berkata lirih sambil merengkuh tubuhku yang tersender lemah tak berdaya..

Kau katakan berulang-ulang…

“Sudahlah…jangan menangis lagi.. Aku ada disini dan takkan pernah pergi darimu…”

Lalu dengan lembut, kau usap titik-titik air mataku yang tak hentinya terjatuh itu dengan jemari lentikmu.

Sungguh.. Bagaikan magnet yang memiliki ribuan daya kekuatan.

Mampu mengurangi sedikit derasnya..

Dan menggantikannya dengan, biasan hangat tatapan mataku kepadamu..

Menyibakkan sebuah rahasia hati yang sekian lama tertutup rapat.

Dan hampir kukunci mati.

 

Sentuhlah luka itu, tanpa harus aku memintanya..

Aku sungguh ingin berbagi segalanya kepadamu..

AKu begitu ingin kau tahu, rasa sakit itu..

Diseluruh ragaku..

Dan sejujurnya aku tak lagi meragukan ketulusan hatimu untuk selalu berada disisiku..

Tidak… Sudahlah… Diam saja..

Hentikan semua sentuhan-sentuhan itu.

Karena tidakkah kau tahu bahwa ternyata kini aku juga, Mengingikan semua itu???

 

Oh…

Dekap aku kini..

Erat..

Dan jangan kau lepaskan lagi..

Hadirlah jangan pernah pergi meninggalkan aku sendiri..

Kecup bibirku.., dan rasakan hawa hangat yang telah lama tertunda..

Resapilah..

Maka sungguh akan kau temukan gelora lara yang begitu membara..

Sudahlah cukup kau hanya berdiri diam dalam keraguanmu..

Jangan pula begitu sibuk memberiku berpanjang-panjang argumentasi saja..

Peluk dan kecup hatiku..

Pinjamkan aku Lenganmu…

Untuk aku bangkit berdiri..

Dan kembali melangkah tegar dalam pelukanmu…

 

Kumohon Kali Ini Dengarkanlah

Ku katakan setiap kalimat melalui ketikan jemari ini,

Dengan rasa sesal yang kian tinggi menggunung.

Terenyuh yang menyentuh hingga kedasar hati,

Danau jiwaku yang perlahan mengering.

 

Oleh kemarau panjang,

Dan peperangan dua sisi sukma.

Antara kebaikan dan juga keburukan.

Kesetiaan dan penghianatan.

 

Dan aku terhempas tak berdaya,

Dalam derita fatamorgana,

Kubangan penyesalan yang sedemikian sesat,

Menjerumuskan sudah antaramu,

Dan juga aku.

 

Berkali-kali,

Titik air matamu kembali terjatuh.

Dan hatimu terbelah berdarah tak lagi seperti dulu.

Meski ku tahu kau adalah wanita tegar yang hebat,

Namun ku yakin perlahan hatimu mati terbunuh cintamu sendiri,

 

Yang sedemikian dalam untukku.

Mati karena ku,

Yang begitu hebat,

Untuk membuatmu terluka dan kecewa.

 

Tetapi seandainya saja kau tahu,

Bahwa didalam setiap tangisan kesepianmu,

Aku disini tak kalah lantangnya menjerit.

Dan tak henti menghujat,

Kekerdilan jiwaku yang telah terlajur tersesat….

 

Dewiku,…

Wanita terhebatku.

Tahukah kau apa yang paling kuinginkan?

Mengapa tak kau tusukkan saja belati itu tepat pada jantungku?

Dan biarkan aku terkapar mati.

 

Pergi,…

Dari dunia fana yang teramat menyesakkan ini.

Aku lelah menyakitimu,

Dan aku teramat lelah, setiap kali melihatmu menangis,

Karena aku.

Sebatas Keraguan

Bukan hanya sebatas khayal

Atau angan yang tak berujung pada satu kepastian

Jika putihnya perasaan hati ini bisa

Kau fahami dengan sejujurnya

Yang tak memerlukan pemikiran sebegitu rumit

Atau analogi telematik yang aku sendiri juga tak begitu faham

 

Ku rasa semua itu tak perlu

Selain hanya cukup dirasai

Ketika aku berada dekat

Dan tiba-tiba jiwaku merasa hangat

Seketika senyumku pun mengembang

Lepas mengusir sepi dan penat yang membayang

 

Perlukah semua itu diragukan?

Haruskah itu tetap tak bisa menahan?

Benarkah tak bisa memberikan jawaban?

Dan kekuatan untuk melawan semua kesedihan?

Untuk apa memiliki jiwa jika terkunci mati didalam kotak?

Untuk apa memiliki kedua mata indah,

Namun buta hati, tak dapat melihat?

 

Bukan hanya sebatas pada angan ataupun maya

Yang disepelekan dan dianggap tak ada

Cinta tetaplah cinta

Yang murni dan tulus dari hati yang begitu lama terendap sunyi

 

Aku Disini Sahabat

Sahabat…

Kemarilah duduk disampingku sebentar

Merapat pada bahuku

Dan dengarkan aku berkata kepadamu

Meski pelan dan tersamar

 

Genggam erat jemariku

Dan rasakanlah gerakanya yang gemetar

Tataplah jauh dikedalaman danau mataku

Hingga menembus hati

 

Lalu lihatlah…

Semua rasa dan bahasa kasih yang kusimpan dan kumiliki

Biarkan semuanya mengalir padamu

Untuk kau terjemahkan sendiri

 

Diamlah sejenak dan dengarkan

Bayangkan dan fikirkan tanpa perlu aku mengungkapkan kepadamu

Bahwa begitu banyak hal hebat yang telah kita lalui bersama

 

Penuh derai tawa dan juga air mata

Kesedihan…

Amarah…

Bahagia…

Semua kita telah rasa…

 

Jangan biarkan itu semua tenggelam begitu saja

Kedalam lubang hitam kenangan dan sejarah suram

Atau kita buang dan abaikan.

 

Tetapi,

Mari kita jadikan itu semua sebagai kekuatan kehidupan

Dan sejarah yang takkan pernah terlabur dan terlupakan

 

Sahabat…

AKu ingin kau tahu dan mengerti,

Bahwa perjumpaan dan mengenalmu

Menjadi bagian dari hidup dan hatimu

 

Adalah takdir dan hadiah yang terindah

Yang telah diberikan oleh Tuhan

Untukku…

Dan semoga semua hadiah ini

Akan tetap kekal abadi sampai nanti

Sepanjang usia kita

 

 

Tentang Waktu

Langit, Waktu pun masih memberikan segenggam serpihannya untuk dinikmati oleh mata-mata manusia. Walau hujan waktu itu bernyanyi dengan derasnya, pertanda sebagai rasa suka cita yang begitu meruah. Membasahi tanah bisu yang menganga. Tapi, itu hanya sementara saja. Matahari pun menguap cahaya yang begitu legam. Namun, mataku tetap memuisi.

 

Hujan itu berhenti berdendang saat aku berada di lain masa lagi. Hanya legam matahari yang terus menerus bernyanyi dengan melodi angin yang tak begitu bersahabat. Hanya sesekali saja gerimis lahir, itupun tak sempurna. Hanya tubuhnya saja yang lahir, entah jiwanya melayang kemana. Tetapi, mataku tetap memuisi untukmu.

 

Setelah beberapa lamanya menggenggam waktu, ada banyak tawa yang lahir sempurna. Jiwa dan raganya menyatu dalam tubuh mata yang memuisi itu. Duka hanyalah sesendok minyak yang mengapung di atas air tawa, tak bisa memasuki jiwa air tersebut. Namun, terkadang duka merana di penghujung malam. Merindukan masa-masa yang telah silam. Entah bersembunyi dimana walau telah dikais oleh beberapa kenangan yang tersisa. Atau mungkin ia telah berada di kenangan orang lain yang telah dilupakan. Meskipun begitu, mataku tetap memuisi.

 

Manusia lahir ditawarkan hanya dua pilihan saja. Mawar yang merona merah penuh duri dan sehelai kertas kosong yang begitu polos. Banyak yang memilih indahnya mawar yang begitu mempesona, namun ternyata merah mawar itu lama-lama terkikis oleh berlalunya waktu yang tak tentu, diredam oleh beberapa musim yang tak berkesudahan.

 

Banyak juga yang memilih sehelai kertas kosong itu. Namun, menulis di atas kertas itu pun dengan menggunakan tinta hitam. Mestinya memilih warna putih. Bukankah itu lebih memuisi untuk hati yang masih abu-abu. Hitam pun akan terkikis juga oleh waktu menjadikannya putih. Jadi, semuanya akan kembali putih yang tak cemerlang.

 

Mawar merah dan kertas kosong, apapun itu, aku memilih mengambil satu duri mawar itu lalu menusukkannya ke ujung jemariku. Lalu, menulis di atas kertas kosong itu. Menulis kehidupan, apapun itu. Untuk menyatukan jiwa dan raga kehidupan yang banyak diabaikan oleh mata manusia. Walau demikian, mataku tetap akan memuisi.

 

Walau nanti kau telah bersama Tuhan, namun melihat langit Tuhan, dengan begitu aku bisa bersamamu tiap hari. Menggenggam rinai gerimis, seperti merasai airmatamu yang berjatuhan ke bumi, hanya untukku. Menyentuh angin, aku bisa merasakan hembusan nafasmu yang begitu memburu. Walau langit begitu suram malam hari, masih ada sorotan matamu di purnama yang menggantung.

 

 

Sebatas Iseng Yang Istimewa

Pada satu masa….

Ini terjadi, saat iseng sebenarnya jariku menari kembali. Meski sesungguhnya aku berharap sekali bukan diatas keypad ini jari-jari ini beraksi. Jujur, aku mengakui tanpa rasa munafik atau pura-pura, apalagi pura-pura tak mau padahal sangat mau!

 

Bahwa jemari ini bisa menari diatas tubuh indahmu, menjelajahi setiap inchinya hingga ke seluruh pelosok sudut nan tersembunyi, dari ranum tubuhmu…

 

Mmmmmmmhhh,…………………………… dan ……………….hemmmmmmmmhhhhh……

 

Tetapi…

Ops! …. ma’af, atas inginku yang berlebihan ini. Karena sebenarnya aku ingin sekedar mengungkap rasa, yang tadi kuserap seketika dari semesta maya.

 

Iya, hahahahahaha… Kau bisa katakan, aku kembali mengintip dan menerka hati dan perasaan sekitarku. Dan kau tau apa kesimpulanku?

Semua seperti dagelan dan juga babak drama yang amat menjemukan dan tak lucu!!

HUh….!!!

Membosankan!!!

 

Tetapi tetap, semua seakan menyelaraskan satu rasa yang tak jauh berbeda. Seperti yang aku punya, dan tak penat selalu ada mengelilingiku, yaitu sepi.

 

Kesepian yang terkutuk !!! Membusuk saja kau pergi bersama sang Iblis !!!! Mengapa sepi harus ada?

Kenapa sunyi? Selalu terasa begitu menyiksa…… Terlalu banyak hal didunia ini yang terlihat sebegitu mudah, namun pada kenyataannya ia amat sulit. Tak gampang untuk ditaklukan, terutama sepi. Yang menghujam hati, mengikuti seakan tak henti terus menunggu, hingga jiwa kita layu dan mati dalam lembah putus asa dan sakit hati.

 

Ahhhh…

Tetapi itu dulu, sebelum aku menemukanmu. Dan kau hadir mengobati setiap luka yang mulai hampir membusuk itu, bernanah dan sedikit dihuni ulat-ulat menjijikan!!!

 

Kau hadir bagaikan cahaya dan juga sekuntum bunga, yang mendekapku erat, menyadarikan ditengah keterpurukan yang tak henti aku kutuki sendiri.

 

Dan mulai detik ini, aku takan perduli dengan apapun selain mu. Karena yang kupegang darimu adalah ketulusan dan juga kesungguhan  yang tak bisa dimengerti oleh hati, yang telah membuatku hancur.

 

Kau begitu sederhana…

Kau begitu istimewa…

Kau begitu nyata…

Dan kau, tak pernah mengajarkan aku bagaimana cara untuk membenci.

Itulah, yang membuatku semakin ingin berada disisimu.

Sampai nanti…..

 

%d blogger menyukai ini: